0811-390-317

Pesona Candi Ratu Boko: Sejarah, Lokasi, dan Harga Tiket Masuk – Yogyakarta tidak hanya sekedar bentang alamnya saja, melainkan tentang sejarah dan budaya yang juga sangat menarik untuk disimak. Tak heran bila, Yogyakarta disebut-sebut sebagai pusat pariwisata selanjutnya setelah Pulau Bali. Perpaduan alam dan budaya di Kota yang disebut dengan Kota Gudeg ini memang bisa diacungi jempol.

Candi Ratu Boko atau juga disebut Situs Ratu Buko ini adalah bukti dari peninggalan sejarah negeri ini. Mengapa bisa disebuit juga dengan Situs? Karena, Ratu Boko adalah reruntuhan dari sebuah istana dan bangunannya pun tidak ada yang menyerupai Candi. Tempat ini pun juga bisa disebut dengan Keraton Ratu Boko.

Sejarah Singkat Tentang Ratu Boko

Pada abad ke 17, ada seorang warga eropa yang sempat berkunjung ke Jawa, tepatnya di wilayah Bokoharjo. Hanya saja, orang tersebut tidak menemukan situs yang dimaksud. Orang eropa yang masih penasaran dengan situs ini pun bercerita dengan H.J. De Graff orang Belanda yang kemudian dilakukanlah sebuah penelitian oleh FDX Bosch yang pada akhirnya ditemukanlah reruntuhan ini.

Menurut Prasati Abhayagiri wihara yang mempunyai angka 792 M Situs Ratu Baka merupakan tempat Rakai Panangkaran yang mengundurkan diri dari Raja Mataram karena, membutuhkan sebuah ketenangan. Kemudian, Rakai Panangkaran membangun sebuah wihara yang disebut Abhayagiri Wihara.

Ada pula sebuah cerita yang berkembang bahwa Ratu Boko ini diambil dari sebuah nama yang juga mengacu pada Ayah dari legenda Roro Jonggrang. Cerita ini sudah berkembang pesat di kalangan masyarakat sekitar. Keraton Ratu Boko sudah digunakan pada masa dinasti Syailendra.

Situs Ratu Boko merupakan peninggalan Agama Budha. Karena, Rakai Panangkaran diketahui beragama budha. Hal ini diketahui dengan adanya Arca Dyani Budha Tetapi, Situs ini pun bisa juga disebut dengan situs peninggalan agama Hindu dengan ditemukannya Arca Durga, Yoni, dan Ganesha

Mengenal Sedikit Arsitekturnya

Gerbang situs ini terdiri dari 2 gerbang yaitu, dalam dan juga luar yang terletak di bagian barat situs. Gerbang luar memiliki ukuran yang lebih kecil daripada Gerbang dalamnya yang merupakan sebuah gerbang utama keraton. Gerbang ini disusun dengan gapura paduraksa. Gerbang luar berjumlah 3 dan berjumlah 5 untuk Gerbang utama.

Ada pula tulisan Panabwara. Dimana diketahui Panabwara adalah nama anak dari Prabu Rakai Panangkaran. Menurut sejarah yang tercatat Prabu Rakai Panangkaran adalah penguasa dari Kerajaan Ratu Boko.

Kompleks ini ada sebuah bangunan yang menyerupai candi yaitu Batu Kapur dan Batu Putih di bagian timur laut. Candi ini dinamakan dengan Batu kapur karena, fondasi dari candi ini adalah Batu Kapur. Hanya saja, bagian atas dari candi ini sudah hilang.

Komplek Ratu Boko bagian dalam terdapat Candi pembakaran dan sumur suci. Candi pembakaran ini terletak di bagian depan yang dibuat dari batu andesit. Bisa disebut dengan Candi Pembakaran karena, ditemukannya abu bekas dari sebuah pembakaran.

Dari tempat ini, Sobat Traveller semua bisa melihat sumur suci ini.

Kedalaman sumur suci ini bisa mencapai 2 meter pada saat musim kemarau. Dalam sejarah Keraton Boko, sumur suci ini digunakan untuk upacara keagamaan yang dilangsungkan di Candi Pembakaran.

Daya Tarik Lain Keraton Ratu Buko

Situs ini berada di atas bukit dengan ketinggian 200 mdpl. Bisa dibilang kawasan ini adalah sebuah kawasan keraton yang cukup lengkap diantara keraton jawa lainnya. Dimana kompleks bangunan ini cukup lengkap tediri dari pintu gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, dan juga pagar pelindung.

Sejarah Singkat Keraton Ratu Buko

Pada abad ke 17, ada seorang warga eropa yang sempat berkunjung ke Jawa, tepatnya di wilayah Bokoharjo. Hanya saja, orang tersebut tidak menemukan situs yang dimaksud. Orang eropa yang masih penasaran dengan situs ini pun bercerita dengan H.J. De Graff orang Belanda yang kemudian dilakukanlah sebuah penelitian oleh FDX Bosch yang pada akhirnya ditemukanlah reruntuhan ini.

Arsitektur Keraton Ratu Buko

Gerbang situs ini terdiri dari 2 gerbang yaitu, dalam dan juga luar yang terletak di bagian barat situs. Gerbang luar memiliki ukuran yang lebih kecil daripada Gerbang dalamnya yang merupakan sebuah gerbang utama keraton. Gerbang ini disusun dengan gapura paduraksa. Gerbang luar berjumlah 3 dan berjumlah 5 untuk Gerbang utama.